Sebagaimana orang tua, pada umumnya begitulah
anak-anak.
Makin
agung tujuan, makin tinggi karunia pikiran dan rohani, dan semakin baik
kemampuan jasmani orang tua itu dikembangkan, semakin baik pula kelengkapan
hidup yang mereka berikan kepada anak-anak. Dalam menumbuhkan apa yang terbaik dalam diri mereka, orang tua
menanamkan suatu pengaruh untuk membentuk masyarakat dan meninggikan generasi yang akan datang.
Para
ayah dan ibu perlu memahami tanggung jawab mereka. Dunia penuh dengan jerat
untuk kaki orang muda. Banyak orang tertarik oleh kehidupan yang mementingkan
diri dan kesenangan seksual. Mereka tidak dapat melihat bahaya yang tersembunyi
atau ujung yang mengerikan dari jalan yang nampaknya bagi mereka adalah
kebahagiaan. Dengan pemanjaan selera dan nafsu, tenaga mereka diboroskan, dan
jutaan manusia binasa di dunia yang sekarang maupun yang akan datang.
Khususnya
tanggung jawab ini terletak pada sang ibu. Dia yang oleh siapa sumber hidup
anak itu dipenuhi dan bangun tubuhnya terbentuk, menanamkan juga kepadanya
pengaruh mental dan spiritual yang cenderung membentuk pikiran dan tabiatnya.
Adalah
Yokebed, ibu Musa seorang pemberani, kuat dalam iman, penyelamat orang Israel.
Adalah Hana wanita tekun berdoa dan memiliki Ilham surga, lahirlah Samuel
PERTARAKAN DAN PENGENDALIAN DIRI
Ibu harus menjaga kebiasaan
hidupnya seperti dalam Kitab Suci.
Kesejahteraan
(sikap) anak terpengaruh oleh
kebiasaan-kebiasaan si ibu. Jika sebelum
kelahiran anaknya itu dia memanjakan diri, mementingkan diri, tidak sabar, dan
cerewet, maka sifat sifat ini akan terpantul dalam tabiat anak itu. Tetapi
kalau si ibu tetap berpegang pada prinsip yang benar, bertarak dan menyangkal
diri, ramah, lemah lembut dan tidak mementingkan diri, maka dia bisa berikan
ciri ciri luhur yang sama kepada anaknya.
Banyak
penasehat menganjurkan agar tiap keinginan ibu harus dikabulkan; artinya kalau
dia menginginkan sesuatu makanan (NGIDAM), walaupun berbahaya ia harus
memanjakan selera. Nasihat seperti ini palsu dan menjerumuskan
Kerja berlebihan
Tenaga
ibu harus dihargai dengan baik. Bebannya harus dikurangi. Sering suami tidak
mengenal hukum fisik. Karena repot dengan perjuangan hidup, atau berjuang
mencari kekayaan dan tertekan dengan persoalan dan kebingungan, dia membiarkan
beban-beban di pundak istri yang melebihi kekuatannya pada masa yang paling
genting sehingga menyebabkan kelemahan dan penyakit.
Kesempatan Para Orang Tua Dalam
Pendidikan Anak.
Terhadap
diri anak-anak yang dipercayakan kepada pemeliharaannya, setiap ibu mendapat
tugas suci dari Allah.
Pekerjaan
ibu seringkali tampak baginya seperti suatu pelayanan yang tidak penting. Itu
adalah pekerjaan yang jarang dihargai. Hari-harinya dipenuhi dengan tugas-tugas
kecil, semuanya memerlukan usaha yang sabar, pengendalian diri, kewaspadaan,
kebijaksanaan dan kasih pengorbanan diri; namun dia tidak bisa menyombongkannya
sebagai suatu prestasi yang besar.
Dia
hanya mengatur rumah tangga agar berjalan dengan lancar; sering merasa lelah
dan bingung, dia sudah berusaha ramah berbicara kepada anak anaknya, membuat
mereka tetap sibuk dan bahagia, dan menuntun kaki kecil itu di dalam jalan yang
benar. Dia merasa seakan tidak melakukan apa-apa, tapi sebenarnya bukanlah
demikian. Malaikat surga mengamati ibu yang letih itu, memperhatikan
beban-beban yang dipikulnya setiap hari. Namanya mungkin tidak terdengar di
dunia ini, tetapi nama itu tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba.
